nanda.safira10's blog

mencari dan memberi yang terbaik

:D

September19

CERITA INSPIRASI 2

Seperti film yang diputar dalam gerakan-gerakan lambat, begitulah helvy melihat dirinya tujuh belas tahun yang lalu.

2 April 1988, Ia duduk di kelas dua SMA, hampir naik kelas tiga.

Siapa dia? Remaja yang mencari jati diri. Di kelas, Ia selalu ranking. Dia juga aktif di Teater,Pramuka,Paskibra, dan mengelola Majalah Dinding. Pergi ke sekolah, tiga hari mengenakan rok dan tiga hari lainnya mengenakan celana panjang abu-abu. Dia sering diminta mewakili sekolah dalam berbagai lomba pidato, lomba baca puisi, dan kontes debat. Berani, tak bisa diam, cuek, sebagaimana remaja pada umumnya. Di luar sekolah, Ia sempat ikut karate dan paduan suara, meski tak begitu sukses.

Bagaimana pandangannya terhadap Islam? Sekadar agama yang baik. Tentu bangga (Hai, dia seorang muslimah!). Tapi anehnya dia tak pernah shalat,kecuali saat sedih. Dia pun tak bisa membaca Al Quran. Bisakah Anda bayangkan dalam usia delapan belas tahun, dia belum juga bisa membedakan huruf ba dan nun?

Panjang kalau dia ceritakan apa yang terjadi saat itu. Intinya, dia menghadiri pengajian dan membaca terjemahan Al Quran. Sepintas tak ada yang istimewa. Tapi menjadi menyentuh ketika Anda tahu, itulah kali pertama Ia mengaji dan untuk pertama kalinya dalam hidup Ia membaca Al Quran terjemahan! Pada usia delapan belas tahun!

Pulang dari pengajian tersebut, hari itu juga Ia bertekad langsung mengenakan jilbab.

“Lo gila ya, Vy. Lebih revolusioner dari gue! Lo pikirin dong mateng mateng. Shalat aja jarang, ngaji nggak bisa, kenal Islam di jalan, terus sekarang lo mau pakai jilbab? Ha ha ha, apa kata dunia?” kata Heidy, sahabatnya, sang ketua Osis.

Saya tak peduli. Masih menitikkan air mata mengingat kajian senja itu.

“Modal kita kan rambut, Vy. Nah kalau ntar pakai jilbab, muka kita jadi aneh. Tembem! Belum lagi ntar susah dapat kerjaan, susah dapat cowok. Gila aja lo!” sambungnya lagi. “YA gue juga mau pakai jilbab. Tapi ntar kalau gue udah tualah. Allah kan Maha Pengertian. Yang penting kita jilbabin dulu nih, hati kita!”

Helvy menatap Heidy, lama. “Emang gue pikirin? Maha Pengertian? Gue juga tahu. Nah kita pengertian nggak sama peraturan Dia? Memangnya siapa yang majikan, siapa yang hamba? Kalau gue keburu mati, gimana?”

Heidy nyengir. Terdiam sesaat. “Ya terserah lo deh!”

Dalam perjalanan pulang, Ia teringat tentang sikapnya selama ini pada para jilbaber di sekolah. Ya Allah, betapa teganya saya! Mereka bahkan sering menyingkir dari jalan yang saya lalui, hanya karena khawatir saya menyapa mereka dengan julukan “nona lemper” atau “nona lontong”.

Begitulah, pulang Helvy langsung mandi, mengenakan baju dan rok panjang pemberian seorang teman di pengajian. Dia pergi ke rumah Nuraida, teman sekolah berjilbab yang pernah Ia panggil “nona lemper” juga. Dia ternganga membuka pintu rumahnya, lalu mengajari Helvy cara memakai jilbab. Tiba-tiba Ia merasa begitu damai.

“Gue jadi jelek banget ya, Da, pakai jibab begini?”

Ida memandang Helvy dengan mata kaca. “Nggak apa, Vy, jelek di mata manusia. Yang penting cantik di mata Allah….,” katanya seraya memeluk Helvy.

Tentu saja banyak yang berubah setelah Helvy berjilbab. Ia mencoba untuk menghias diri dengan akhlakul karimah. Menyelaraskan tingka lakunya dengan pakaian mulia ini, meski kata orang, kalau jalan masih saja “gagah”. Sementara sekolah gempar, orang rumah tak percaya.

Perlahan tapi pasti, Helvy tambah terus wawasan keislamannya. Tiada hari tanpa mengkaji! Dia juga mulai mengisi kajian keislaman untuk anak-anak SMP dan teman-teman SMA. Andis (anak disko), Abas (anak basket), Ater (anak teater), dan teman_temannya yang lain,tidak Ia lupakan. Helvy rangkul mereka, mengajak untuk bersama lebih mengenal Islam. Helvy tak menyangka. Sungguh hidayah Allah ketika satu per satu dari mereka mulai berjilbab, termasuk Heidy.

Mulanya tak ada halangan berarti. Tapi kemudian muncul peraturan Depdikbud : Dilarang mengenakan jilbab di sekolah!

Helvy dan teman-teman—termasuk Heidy, sang ketua Osis—bangkit menentang. Tapi mereka harus berhadapan dengan kekuasaan pemerintah bernama Depdikbud itu! Mereka terancam dikeluarkan. Setiap ada inspeksi mendadak dari dinas pendidikan, mereka sembunyi di WC sekolah. Helvy bahkan pernah masuk lewat jendela, karena sudah dihadang di depan gerbang!

Akhirnya mereka boleh pakai jilbab di lingkungan sekolah,tapi kalau di kelas harus dibuka. Huh, sebuah peraturan yang cukup aneh, bukan? Apa kerugiannya kalau mereka pakai jilbab di kelas? Kok malah yang buat peraturan yang kegerahan? Pikir Helvy. Dan dasar bandel, Helvy dan Heidy tetap tak mau membuka jilbab mereka di kelas, meski sekitar dua puluh lima temannya terpaksa melakukan. Sebab, bila tidak menurut, mereka tidak boleh ikut Ebtanas. Helvy dan Heidy tetap ikut Ebtanas, tapi semua soal hanya kami kerjakan dalam setengah jam (kebayang nggak sih?). Ya, soalnya setelah setengah jam itu ada inspeksi jilbab ke kelas-kelas! Makanya Helvy bersyukur, meski semua soal dikerjakan dalam setengah jam, Ia tetap bisa diterima di UI.

Sebenarnya halangan juga Helvy terima dari lingkungan keluarga. Ibunya tidak setuju Ia mengenakan jilbab. Suatu hari Helvy mendengar Ibunya menelepon temannya sambil menangis. Ibunya berkata: “Anakku si Evi, sudah jelek tambah jeleklah sekarang karena berjilbab. Aku bingung bagaimana bisa Ia dapat kerja? Bagaimana jodohnya nanti?”

Namun Helvy menghadapi Ibunya dengan mengedepankan akhlak karimah. Sejak berjilbab, Ia berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menjadi lebih lembut, lebih rajin, dan selalu berusaha mengambil hati keluarga, terutama Ibunya. Subhanallah, akhirnya Ibunya bisa lapang dada dan sepenuhnya menerima keputusan Helvy untuk berjilbab.

Alhamdulillah, Helvy bersyukur hingga hari ini Ia masih istiqomah.

posted under Academic | 1 Comment »

September19

CERITA INSPIRASI 1

Cerita ini di angkat dari sebuah pengalaman pribadi seorang siswa sekolah menengah pertama tahun pertama hingga ketiga. Ia bernama Nana. Ia lahir sebagai anak pertama dari tiga orang bersaudara dan menjadi anak perempuan satu-satunya. Ia terlahir dari keluarga yang sangat edukatif. Kedua orang tuanya adalah seorang yang sangat berpengaruh penting dalam kesehatan, membantu dalam proses mengobati dan menyembuhkan. Ibu dan Ayahnya adalah dokter.

Ketika Ia tamat dari sekolah dasarnya, Iapun melanjutkan studi nya di sekolah menengah pertama bersama kedua sohibnya yang bernama Nisa dan Nurul. Sejak kelas tiga sekolah dasar mereka memang sudah sangat kompak dan selalu bersama-sama hingga mereka membentuk suatu nama pertemanan mereka dengan nama ‘Nthree’ yang beranggotakan Nana, Nisa dan Nurul.  Mereka mencoba mendatangi satu sekolah yang belum lama berdiri yang bernama Ar-Rahman. Sekolah tersebut tidak kalah dengan sekolah elite lainnya yang berdiri pada saat itu. Sekolah itu adalah sekolah full day school yang dimulai pada pukul 07.30 hingga 17.00 WIB. Mereka bertiga pun mendaftarkan diri mereka bersama-sama orang tua mereka masing-masing. Mereka bertiga sangat tertarik dengan semua fasilitas dan berbagai agenda sekolah tersebut, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk bersama-sama melanjutkan studi mereka di SMP Ar-Rahman.

Tahun pertama cobaan menerpa mereka. Mereka di wajibkan memakai jilbab setiap harinya di sekolah dari jam pertama hingga jam pelajaran sekolah usai. Mereka yang notabenenya belum pernah sama sekali memakai jilbab seharian kini malah di wajibkan setiap harinya. Mereka bertigapun tadinya mengurungkan niat mereka untuk melanjutkan sekolah di Ar-Rahman tersebut. Namun, salah seorang dari mereka mengatakan “ini adalah ujian pertama kita, kalau kita berhasil dengan ini maka kita bisa menghadapi ujian-ujian berikunya”. Maka merekapun mencoba menjalankan peraturan sekolah dengan memakai jilbab hingga akhirnya mereka sudah terbiasa dengan kewajiban itu. Mereka bertemu dengan berbagai jenis watak di sekolah itu dari mulai yang sangat lembut,kalem,pemarah,pendendam,perebut dan pengiri. Pada mulanya mereka bertahan dengan ikatan pertemanan mereka. Namun, lama kelamaan ikatan itu mulai rapuh dan hampir patah. Salah seorang dari mereka sangat berkembang pesat pada saat itu. Nana sangat terkenal pada saat itu dengan kepandaiannya dalam berbagai bidang. Ketika Hari kemerdekaan RI Ia ditunjuk sebagai pianist untuk mengiringi teman-temannya dalam memainkan alat music pianika dan recorder. Nana tidak berhenti pada bidang itu saja, Ia juga ahli dalam berbicara dalam Bahasa Inggris yang mengantarkannya pada lomba-lomba ke sekolah-sekolah lain. Dan Nana tetap belum berhenti disitu saja, Ia mulai mengepakkan sayangnya dalam bidang pelajaran sains yang mengantarkannya pada suatu kompetisi dalam  ‘Lomba bintang Ultra’ yang pada saat itu di sponsori oleh susu Ultra UHT. Pertemanan mereka mulai rapuh karena kesibukan Nana, hingga akhirnya pada suatu hari Nana melihat kedua sohibnya berjalan ceria dengan salah satu teman sekelas mereka yang bernama Sarah. Pada awalnya Nana tidak berfikiran negatif dengan itu karena Nana berfikir bahwa mungkin kedua temannya ingin memiliki teman yang lebih banyak. Namun, lama kelamaan Nana merasa diasingkan oleh kedua temannya. Ketika Nana mencoba mendekat mereka bergerak sejauh-jauhnya dari Nana. Nanapun segera mendatangi mereka dan memintaa maaf jika Nana selama ini meninggalkan mereka dan tidak memperdulikan mereka. Tetapi kedua temannya tidak memperdulikan maaf Nana. Pada akhirnya Nanapun mencoba untuk berbicara dengan Sarah. Ia mengatakan bahwa jangan pernah mengambil kedua sohib tersayangnya darinya, jangan pernah mempengaruhi mereka dengan hasutan dan biarkan mereka kembali pada Nana. Sarahpun akhirnya marah dan Ia mengadukan apa yang Nana katakan kepadanya dengan kedua teman Nana. Akhirnya dua minggu berlalu tanpa ada jalinan ikatan pertemanan antara Nana dan kedua temannya itu. Hari demi hari hari berlalu, Nana tetap pada pendiriannya dengan membiarkan mereka bersama Sarah. Tetapi apa yang Nana lakukan membuahkan hasil, diamnya membuat kedua temannya merasa bersalah telah meninggalkannya demi orang yang belum lama mereka kenal. Akhirnya pada suatu pagi Nisa dan Nurul mendatangi meja Nana di kelas dan meminta maaf kepada Nana. Nanapun dengan lapangnya membukakan pintu maafnya kepada kedua teman tersayangnya.

posted under Academic | No Comments »

Kaum Gay dan Lesbian Dapat Tempat di PBB

July20

TEMPO Interaktif, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Senin, menyetujui keberadaan organisasi kaum Gay dan Lesbian meskipun Mesir, Rusia, serta negara lainnya menolaknya.

Komisi Hak Asasi Gay dan Lesbian Internasional, berbasis di Amerika Serikat, telah mengajukan “status konsultatif” pada Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) tiga tahun silam.

Bulan lalu, Komite PBB yang memberikan akreditasi kepada organisasi LSM tersebut menolak permohonan sejumlah negara termasuk Mesir, Rusia, dan Cina setelah lembaga tersebut mengadakan pemungutan menghasilkan suara bulat “No”. Namun diplomat Barat bersumpah melanjutkan pemungutan suara itu.

Delegasi Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Barat turut memberikan suara yang diadakan oleh ECOSOC atas usulan Komisi Hak Asasi Gay dan Lesbian Internasional, Senin. Hasil pemungutan menunjukkan 23 setuju, 13 menolak, dan 13 lainnya abstain.

Di antara negara yang memilih “Tidak” adalah Mesir, Cina, dan Rusia. Diikuti Nigeria, Maroko, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, serta Venezuela. Sedangkan yang mendukung antara lain Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jerman, Brasil, dan Jepang.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama memuji hasi pemungutan suara itu. “Saya menyambut baik langkah penting demi kemajuan hak asasi manusia,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Wakil duta besar Inggris di PBB Philip Parham mengatakan, ECOSOC mewakili kelompok tersebut di badan dunia “akan menambah suara penting dalam diskusi kami di PBB.”

Cary Alan Johnson, direktur kelompok, mengatakan keputusan tersebut merupakan “sebuah penegasan dukungan terhadap kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender untuk mendapatkan tempat di PBB sebagai bagian penting bagi komunitas sosial sipil.”

“Ada pesan jelas di sini bahwa suara ini tak harus diam dan hak asai manusia tak dapat ditolak berdasarkan orientasi seksual atau identitas gender,” kata Johnson.